Cara Penggambaran Tokoh dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih (Episode 2)

Aspek tokoh dalam fiksi merupakan salah satu unsur instrinsik yang sangat penting. Ketika struktur cerita atau plot dianggap sebagai elemen fundamental dalam fiksi sehingga disebut sebagai jiwa fiksi, sesungguhnya tokohlah yang mengisi plot itu. Peristiwa yang dimunculkan pengarang sangat dipengaruhi oleh munculnya tokoh dengan berbagai karakternya. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang.

Bagian yang menarik perhatian penulis dalam pembahasan aspek tokoh adalah tentang cara penggambaran tokohnya. Masalah penokohan dalam karya sastra tak semata-mata hanya berhubungan dengan masalah pemilihan jenis dan perwatakan para tokoh, melainkan juga bagaimana melukiskan kehadiran dan penghadirannya secara tepat sehingga mampu menciptakan dan mendukung tujuan artistik karya yang bersangkutan. Seorang pengarang yang baik akan memperlihatkan teknik penggambaran tokoh yang bervariasi sehingga menantang untuk dibaca dan dianalisis. Cara penggambaran tokoh yang bervariasi juga akan membuat cerita lebih menarik dan tidak monoton.

Secara garis besar teknik penggambaran tokoh dalam suatu karya dapat dibedakan menjadi metode diskursif, dramatis, dan kontekstual (Sayuti, 2000:89). Ada juga yang menggunakan istilah teknik analitik dan dramatis, metode langsung dan tak langsung, dan sebagainya. Pembedaan yang menggunakan istilah yang berlainan itu sesungguhnya memiliki esensi yang kurang lebih sama.

Dalam metode diskursif/ ekspositori/ analitik/ langsung, pengarang hanya menceritakan kepada kita tentang karakter tokohnya. Dengan cara ini pengarang menyebutkan secara langsung masing-masing kualitas tokoh-tokohnya. Kelebihannya terletak pada kesederhanaan dan sifat ekonomisnya. Kelemahannya adalah sifat mekanisnya dan menciutkan partisipasi imajinatif pembaca.

Dalam metode dramatis/ tak langsung, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokohnya untuk menunjukkan identitasnya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal maupun nonverbal, lewat tindakan, juga melalui peristiwa yang terjadi. Kelebihannya antara lain pembaca tidak hanya terlibat pasif, melainkan sekaligus terdorong melibatkan diri secara aktif, kreatif, dan imajinatif. Kelebihan lainnya adalah sifatnya yang lebih sesuai dengan situasi kehidupan nyata. Kelemahannya adalah adanya kemungkinan salah tafsir dari pembaca dan sifatnya yang tidak ekonomis, memerlukan banyak kata dengan bentuk yang relatif panjang.

Wujud metode dramatis dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Burhan Nurgiantoro (2007) menyebutkan 8 teknik yaitu Teknik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran dan perasaan, Teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, teknik reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, dan teknik pelukisan fisik. Sementara itu Suminto A. Sayuti (2000) mengungkapkan 10 teknik yaitu teknik naming, teknik cakapan, teknik penggambaran pikiran tokoh, teknik arus kesadaran, teknik pelukisan perasaan tokoh, teknik perbuatan tokoh, teknik pandangan seorang atau banyak tokoh terhadap tokoh tertentu, teknik pelukisan fisik, dan teknik pelukisan latar.

Tulisan ini bermaksud menganalisis novel Ketika Cinta Bertasbih (selanjutnya disebut KCB) karya Habiburrahman El Shirazy dari sudut cara penggambaran tokohnya. Novel megabest seller ini, yang sebentar lagi akan diangkat dalam film layar lebar, sangat sangat menarik untuk dianalisis. Proses casting yang begitu menghebohkan dengan sistem audisi memunculkan kepenasaran penulis tentang karakter-karakter tokoh yang ada dalam novel ini dan bagaimanakah cara penggambaran tokohnya.

Novel KCB digolongkan ke dalam jenis novel populer. Hal ini sejalan dengan kriteria novel populer yang diungkapkan Jakob Sumarjo (1986) yaitu

1. KCB menceritakan kisah asmara yang melibatkan tokoh-tokoh utamanya dengan tujuan menghibur pembaca meskipun cerita cinta yang diusung berlatar belakang syariat Islam.

2. KCB terlalu menekankan pada plot cerita sehingga karakter yang muncul monoton dan problem kehidupan yang dangkal.

3. Cerita disampaikan secara emosional dengan tujuan meruntuhkan air mata pembaca melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.

4. Isi cerita mungkin hanya ada dalam cerita itu sendiri, terutama menyangkut karakter yang sempurna dari tokoh-tokoh utamanya.

5. Tunduk pada hukum cerita konvensional terutama akhir cerita yang happy ending.

Namun, kategori novel populer tersebut tidak menyurutkan penulis untuk melakukan analisis. Novel populer yang digemari pembacanya sehingga menjadi megabest seller di Indonesia ini menimbulkan keingintahuan penulis, terutama menyangkut teknik pelukisan wataknya. Pada saat audisi calon pemeran utama film KCB, ribuan orang, yang sudah tentu pembaca novelnya, antri mendaftar. Tentu mereka membekali diri dengan pemahaman mengenai watak tokoh yang menjadi incarannya. Di sinilah letak kemenarikannya. Melalui analisis ini, akan terlihat bagaimana Habiburrahman El Shirazy menggambarkan tokoh-tokoh dalam novelnya.

A. Metode analitik/ diskursif/ langsung

Metode analitik banyak dijumpai dalam KCB. Dengan metode ini pengarang menyatakan tokoh Anna yang cantik, cerdas dan shalihah. Hal ini tertuang dalam kutipan berikut.

Sore itu juga berita telah resminya Anna Althafunnisa putri Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Quran bertunangan dengan Furqan Andi Hasan dari Jakarta langsung menyebar di seantero desa Wangen. Beberapa santri senior, beberapa ustadz muda dan beberapa pemuda desa yang menaruh hati dan harap menelan ludah kekecewaan. Impian mereka bisa bersanding dengan putri Kiai Lutfi yang terkenal cantik, cerdas, dan shalihah itu hilang

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 31-32)

Tokoh Azzam yang merupakan tokoh utamanya dengan mudah kita pahami sebagai anak yang berbakti, pintar, bertanggung jawab pada keluarganya dan pekerja keras. Hal ini bisa kita lihat dalam kutipan berikut.

Anak pertamanya Khairul Azzam sejak kecil telah menunjukkan baktinya. Prestasi-prestasinya mengharumkan nama orang tua. Saat kuliah di Al Azhar, ia juga meraih nilai sangat baik di tahun pertamanya. Dan ketika sang ayah tiada, Azzam menunjukkan tanggung jawabnya sebagai anak sulung dan satu-satunya anak lelakinya. Azzam bekerja keras di Mesir sana. …

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 38)

Demikian juga tokoh Husna, adik Khairul Azzam. Kita akan segera mengetahui bahwa ia berwatak sangat halus tutur bahasanya, dan mencintai ibunya. Berikut kutipannya

Anak keduanya, Ayatul Husna, sangat halus tutur bahasanya. Dan sangat mencintainya. Husna seolah tidak pernah rela ada nyamuk sekalipun menyentuh kulit ibunya. ….

….Husna berubah seratus delapan puluh derajat sejak ayahnya meninggal dunia. Sejak itu Husna disiplin mengenakan jilbab. Sangat santun, penyabar, dan penyayang

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 38 dan 39)

Tokoh-tokoh lain juga digambarkan dengan teknik analitik. Berikut cuplikannya.

Lia tidak kurang baktinya. Sebisa mungkin ia berusaha menyenangkan hati ibu. Lialah yang paling sering pergi ke Kudus untuk menengok si bungsu yang sedang belajar di sebuah pesantren Al Quran di Kudus.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 40)

Pagi itu kira-kira pukul sepuluh, jenazah Pak Masykur dikubur. Warga dusun Sraten larut dalam duka. Pak Masykur dikenal sebagai seorang takmir masjid yang ikhlas dan penuh pengorbanan. Ia dikenal sebagai bakul buah yang kaya dan dermawan.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 50)

Bisa dibilang Zumrah adalah kembang dukuh Sraten. Untuk gadis seumurnya, dialah yang paling jelita. Keindahan paras mukanya seringkali menjadi obrolan para pemuda saat ronda.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 50-51)

…Dari pernikahan Mas Sahrun dan Dewi Sukesih lahirlah Lutfi Hakim, yang kini dikenal sebagai ulama paling disegani di Klaten. Beliau adalah ayah dari Anna Althafunnisa, Pengasuh Pesantren Daarul Quran yang alim berwibawa.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 62)

Semua orang di keluarga Rina ini terbuka dan familiar. Ia merasa tidak menjadi orang asing di situ. Orang yang paling banyak cerita tentu saja Bu Harti, ibundanya Rina.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 113)

Sementara di belakang Husna Nampak asyik berdiskusi dengan Eliana. Putri Dubes Mesir itu ternyata tahu banyak tentang teori psikologi. Husna sangat menikmati berdiskusi dengan mahasiswi jebolan EHESS Prancis itu. Di mata Husna, Eliana sangat berbeda dengan artis pada umumnya. Eliana benar-benar memiliki kelas tersendiri. Cerdas dan berwawasan luas.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 144)

Jika disimpulkan, hampir semua tokoh yang dimunculkan dalam novel ini digambarkan perwatakannya melalui metode analitik. Hal ini tentu saja memudahkan pembaca untuk mengetahui karakter setiap tokoh. Para peserta audisi tentunya tertolong dengan gaya penceritaan seperti itu.

B. Metode dramatis/ tidak langsung

Teknik penggambaran tokoh dramatis banyak juga dijumpai dalam novel ini. Karakter yang diungkapkan secara analitik kemudian tercermin dan segala tingkah laku, ucapan, dan sikap tokoh. Dengan demikian, pembaca akan merasa yakin akan karakter tokoh karena digambarkan dengan berbagai teknik. Berikut ini adalah hasil analisisnya.

1. Teknik cakapan

Dalam teknik ini kita bisa mengetahui watak tokoh berdasarkan dialog yang ada dalam novel. Isi dialog itulah yang menuntun kita pada karakter tokoh. Bisa saja penggunaan teknik cakapan ini digunakan bersama-sama teknik yang lain. Dalam cuplikan berikut, kita akan mengetahui beberapa watak tokoh yang terlibat.

“Ilyas cuma satu tahun di sini. Di kelas 3 Aliyah saja. Sebelumnya ia belajar di Pasuruan. Anaknya cerdas. Hanya saja olah bahasanya kurang halus. Tapi pelan-pelan bisa diperbaiki. Ia menyelesaikan S1 di Madinah dan sekarang sedang menulis tesis masternya di Aligarh, India. Saat ini ia sedang liburan. Tadi malam ia datang bersama pamannya untuk melamarmu. Aku dan Ummimu tidak mungkin langsung menerima atau menolaknya. Kami akan memutuskan sesuai dengan apa yang kau putuskan.:

“Kalau Abah sendiri kelihatannya bagaimana?”

“Abah sendiri tidak ada masalah. Selama yang datang itu orang yang shalih dan berilmu saja. Dan Ilyas sudah memenuhi kriteria itu. Selanjutnya tergantung kamu. Sebab kamu yang akan menjalani. Kaulah yang menentukan siapa pendamping hidupmu. Bukan Abah atau Ummimu.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 15)

Cakapan tadi selain menunjukkan karakter tokoh Ilyas yang dipandang cerdas dan shalih oleh Abah, kita juga bisa menyimpulkan karakter Abah sebagai orang tua yang sangat penyabar, demokratis dan terbuka. Ia tidak memaksakan kehendak kepada anaknya.

“Yah, terserah bagaimana keputusan kamu. Siapa yang kamu pilih? Furqan atau Ilyas? Abah minta salah satu dari mereka ada yang kamu pilih. Jangan tidak ada yang kamu pilih. Itu saja permintaan Abah dan Ummi padamu, Nduk.”

“Bah, untuk memilih salah satu di antara keduanya, rasanya kita harus adil. Saya sudah pernah bertemu dengan Furqan, tapi belum pernah bertemu Ilyas. Rasanya kalau saya putuskan memilih Furqan misalnya, itu tidak adil.

Pak Kiai Lutfi paham.

“Baik, gampang. Kebetulan besok pagi dia mau mengisi acara pembekalan anak-anak kelas tiga Aliyah yang akan meninggalkan pesantren ini. Kau akan aku temukan dengannya.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 16-17)

Dari dialog di atas, kita bisa mengetahui bahwa Ana memiliki sifat adil sebelum menentukan pilihannya.

“Fur, kau bahagia?” Tanya Bu Maylaf sambil memandang gurat wajah putranya yang tidak benar-benar cerah.

“Iya bahagialah, Bu. Ibu ini ada-ada saja.”

“Tapi ibu amati begitu pulang dari pesantren tadi wajahmu muram.”

“Ah, tidak. Ibu saja yang terlalu berperasaan.”

“tidak Anakku, ibu serius. Ibu amati kamu masih saja murung. Sejak kamu pulang dari Cairo sampai sekarang kamu kok seperti punya masalah serius? Apa kmu sebenarnya tidak suka pada gadis itu? Merasa salah pilih? Karena kamu sudah terlanjur bilang sama ibu dan ayah, kamu jadi menanggung beban, begitu?”

“Tidak, Bu. Aku tidak ada masalah apa-apa kok. Aku suka gadis itu dan sama sekali tidak salah pilih.”

“Terus kenapa kamu muram seperti tertekan sesuatu?”

“Tidak ada kok, Bu. Sungguh!”

“Fur, firasat seorang ibu pada anaknya tidak pernah salah. Ibu tahu kamu sejak kamu lahir. Kalau kamu senang ibu hafal wajah kamu. Kalau kamu marah, kamu kesal, kamu kecewa. Ibu hafal semua. Juga kalau kamu memendam masalah. Ayo ceritakanlah pada ibu, Nak!” desak Bu Maylaf.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 33)

Dialog di atas menunjukkan karakter seorang ibu yang begitu perhatian pada anaknya. Ia begitu khawatir melihat anaknya yang terlihat memendam masalah. Sementara itu Furqan merupakan tokoh yang suka menyembunyikan perasaan dan menutup-nutupi masalah yang dihadapinya, sekalipun kepada ibunya sendiri.

Karakter yang lain juga dapat kita temukan dalam novel ini yang diuraikan kan dengan teknik cakapan.

2. Teknik pikiran tokoh

Melalui pengungkapan pikiran tokoh, kita bias menyimpulkan pendirian tokoh menyikapi suatu masalah. Biasanya pikiran tokoh diungkapkan melalui cakapan juga. Dengan demikian, tidak terlalu berbeda dengan teknik cakapan. Berikut ini adalah contoh karakter Eliana melalui pikiran-pikirannya.

“Menurut Mbak Eliana, kenapa ada Negara yang lebih maju dari Negara lain. Dan ada Negara yang ketinggalan dari Negara lain.” Tanya Husna.

“Sejarah mencatat bahwa prestasi-prestasi besar dilahirkan oleh mereka yang hamper tidak punya waktu untuk istirahat. Mereka yang bekerja keras dengan pikiran cerdas. Kenapa ada Negara lebih maju dari Negara lain, dan ada Negara yang ketinggalan dari Negara lain? Jawabannya menurutku sederhana saja. Suatu Negara lebih maju dari negera lain karena Negara itu lebih hebat kerja kerasnya dari Negara lain. Dan jika suatu Negara ketinggalan jauh di belakang Negara lain, itu karena Negara itu sangat parah malasnya.”

“Jika bangsa kita masih dikategorikan bansa yang ketinggalan dari bangsa lain, menurutku yak arena mayoritas penduduk kita adalah pemalas. Lihatlah para pelajar yang malas-malasan. Pegawai negeri yang banyak malas-malasan. Aku pernah menjenguk seorang kerabat yang sakit di sebuah rumah sakit umum di kota S. Pelayanannya sangat buruk. Para perawat acuh tak acuh. Ketika pasien mengerang kesakitan, para perawat itu malah asyik menonton televise. Jika kita bandingkan dengan Jepang, misalnya, sangat jauh. Di Jepang tidak ada kursi di ruang perawat, apalagi televise. Dan perawat di sana itu malu kalau terlihat menganggur tidak melakukan apa-apa.”

Dalam cuplikan di atas kita bisa melihat bagaimana pikiran tokoh Eliana terhadap kemajuan suatu bangsa dan pandangannya terhadap Indonesia. Dia sangat menghargai kerja keras dan orang yang mau bekerja keras. Kita juga bisa menyimpulkan bahwa tokoh Eliana adalah seorang pekerja keras sesuai dengan pandangannya itu.

3. Teknik arus kesadaran

Arus kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapkan proses kehidupan batin, yang memang hanya terjadi di batin, baik yang berada di ambang kesadaran maupun ketaksadaran, termasuk kehidupan bawah sadar. Berikut ini digambarkan bagaimana tokoh Furqan yang merasakan kebimbangan dalam memutuskan sesuatu dalam batinnya.

Ia yakin ada penyakit dalam tubuhnya. Dan perkawinannya dengan Anna nanti akan menularkan penyakitnya pada Anna. Lalu pada anak-anak mereka. Ia lalu membayangkan seperti apa murkanya Anna dan marahnya keluarga besar Pesantren Wangen padanya. Lalu di mana rasa takwanya kepada Allah? Bukankah apa yang dilakukannya itu satu bentuk penipuan paling menyakitkan umat manusia?

Nuraninya memintanya untuk bersikap layaknya orang-orang saleh yang memiliki jiwa ksatria. Nuraninya memintanya untuk membatalkan saja pertunangannya itu. Terserah alasannya yang penting tidak ada yang dizalimi karena ulahnya. Namun nafsunya tidak menerimanya. Ia sangat mencintai Anna. Ia merasa sangat berat memutus begitu saja pertunangannya dengan Anna. Apakah ia akan membuang begitu saja mutiara paling berharga yang paling ia inginkan setelah ada dalam genggamannya?

Tidak!

“Jika aku memutuskan pertunanganku dengan Anna, siapakah yang lantas akan peduli pada nasibku? Biarlah aku menentukan nasibku sendiri!” Tekadnya dalam hati dengan mata berkaca-kaca. Saat ia meneguhkan tekadnya itu, nuraninya menjerit tidak rela. Ia teguhkan untuk tidak mendengar jeritan-jeritan protes nuraninya. Ia berusaha membutakan mata batinnya sendiri.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 94-95)

Kutipan di atas adalah salah satu contoh penggambaran arus kesadaran untuk melukiskan tokoh Furqan. Dia yang begitu gamang dalam menentuka sikap antara nuraninya dan nafsunya. Pertimbangan nafsunya lebih besar daripada nuraninya. Inilah yang kemudian menyebabkan dia memutuskan untuk menikahi Anna. Namun dalam bagian lain, pengarang menunjukkan bahwa kebimbangannya terus menghantui bahkan setelah menikah.

Di dalam dadanya seperti ada bara yang membara. Bara cinta, juga bara nafsu pada istrinya. Pada saat yang sama juga ada bara kemarahan yang ia tidak tahu dari mana datangnya. Ia marah pada dirinya sendiri. Marah pada virus HIV yang ia rasa bercokol dalam seluruh sel dan aliran darahnya. Malam ini ia berkukuh untuk tidak menyakiti istrinya. Tapi ia bertanya sendiri pada dirinya, kalau setiap hari bertemu dan tidur satu ranjang dengan istrinya yang begitu jelita, apakah ia akan selalu mampu menahan diri.

Terus harus bagaimana?

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 223-224)

4. Teknik pelukisan perasaan tokoh

Ia jadi kembali teringat pada Azzam. Ia tidak bisa mengingkari bahwa Husna bisa selesai S1, Lia bisa selesai D3 dan si kecil Sarah bisa masuk pesantren adalah karena kerja keras Azzam, putra sulungnya yang sampai saat ini belum juga lulus kuliah di Al Azhar.

Perempuan itu meneteskan air mata kembali. Sebuah doa ia panjatkan,

“Ya Allah mudahkanlah semua urusan putraku Azzam. Aku ingin titipkan keselamatannya pada-Mu ya Allah. Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah berkahilah umur dan langkahnya ya Allah. Amin.”

Ia mengatupkan pelupuk matanya dan menangis. Ibu mana yang tidak menangis bila teringat anaknya yang sudah Sembilan tahun tidak dilihatnya. Anaknya yang selama bertahun-tahun memeras keringat, darah, dan air mata untuk kesejahteraan adik-adiknya. Ibu mana yang tidak menangis dan lunak hatinya.

“Bue menangis, ya?”

Suara Husna menyadarkannya. Ia mengusap air matanya lalu membuka pelupuk matanya.

“Ah, tidak kok, Na.”

“Maafkan jika ada kata-kata Husna dan Lia yang tidak berkenan bagi Bue ya.”

“Tidak kok Na. Tidak ada yang salam dari kalian. Ibu teringat kakakmu di Mesir dan adikmu di Kudus.”

Kutipan di atas melukiskan bagaimana perasaan sang ibu yang merindukan anaknya yang sudah Sembilan tahun berpisah. Ia begitu menyayangi anaknya tersebut yang telah berkorban untuk kesejahteraan keluarganya.

5. Teknik perbuatan tokoh

Seorang berjaket hitam membentak keras sambil menodongkan pistolnya tepat di jidat Zumrah. Bu Nafis gemetar ketakutan. Husna dan Lia merinding. Sementara Zumrah saking takutnya, tanpa ia sadari mengeluarkan air kencing. Pria berjaket itu baginya bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya. Gigi pria itu bergemeretak menahan amarah. Matanya merah marah.

Mahrus memukul pelipis Zumrah dengan gagang pistol. Zumrah mengaduh. Pelipis Zumrah berdarah. Husna mau bergerak menolong Zumrah tapi dicegah Bu Nafis. Bu Nafis tahu kenekatan Mahrus sejak kecil. Ia tidak ingin Husna celaka dengan konyol.

Dengan segenap kekuatan Mahrus menyeret Zumrah ke halaman. Sekali lagi Mahrus memukulkan gagang pistolnya ke kepala Zumrah. Zumrah langsung terjengkang kesakitan. Mahrus sudah bersiap menembak kepala Zumrah. Niatnya sudah bulat bahwa keponakannya harus dihabisi. Ia tinggal merekayasa laporan kejahatannya saja. Sebuah kejahatan yang layak untuk dienyahkan dari muka bumi.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 229-231)

Perbuatan Mahrus dalam kutipan di atas menunjukkan wataknya yang kasar, kejam, dan tanpa perikemanusiaan.

6. Teknik sikap tokoh

“Kak Azzam, nekat saja ke Surabaya. Labrak saja ibunya Mila yang kolot itu. Kalau tetap bersikukuh bawa saja Mila kawin di sini. Kalau Edy kakaknya tidak mau jadi wali, bisa pakai wali hakim. Kalau seperti ini diterus-teruskan yang kasihan kan kaum perempuan. Selalu jadi korban, kayak Si Mil. Apa salah si Mila coba!?” sengit Lia dengan mata menyala-nyala.

“Jangan! Kalau Azzam tetap nekat terus ibunya Mila tetap bersikukuh dan Azzam tetap membawa Mila nikah, ibu kok yakin ibunya Mila itu akan meninggal dunia!” kata Bu Nafis.

“Benarkah, Bu?” heran Lia. Azzam dan Husna juga heran.

“Benar. Ibu agak yakin.”

“Berarti ibu juga berpendapat sama dengan ibunya Mila bahwa anak ketiga tidak boleh menikah dengan anak yang nomor pertama?” kata Lia dengan nada agak sinis.

“Tidak begitu.”

“Terus kenapa ibu itu mati?”

“Kalau Azzam tetap menikahi Mila, Ibu itu akan mati kaku karena marah! Mati karena serangan jantung dank arena sakit hati yang luar bisaa yang dihembuskan oleh setan yang menjaga agar mitos menyesatkan itu!”

“O begitu.” Lia lega.

Dalam cuplikan itu terlihat jelas bagaimana sikap Ibu terhadap usulan kawin lari dan mitos. Ia berfikir rasional dan bijaksana.

7. Teknik pandangan seorang

“Adapun inspirasi cerpen “Menari Bersama Ombak adalah ketegaran dan kesabaran kakak saya. Saya tahu kakak saya siang malam bekerja membuat dan menjual tempe juga menjual bakso di Cairo. Sampai dia mengorbankan kuliahnya. Tapi saya justru menemukan sosok yang saya kagumi, sosok yang seolah terus menari indah bersama ombak kehidupan yang terus datang silih berganti. Terkadang ombak itu datang menggunung sederas tsunami. Namun kakak mampu mengatasinya dengan tariannya yang indah. Ini yang bisa saya sampaikan.”

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 66)

“Jujur, pemuda seperti Azzam itu kalau boleh Abah berterus terang adalah pemuda yang jadi idaman Abah. Sayang baru bertemu sekarang. Jika Abah masih punya anak putri pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Abah tahu tentang perjuangannya membesarkan adik-adiknya. Dia sungguh pemuda luar bisaa.”

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 177)

Watak tokoh juga bisa kita ketahui dari pandangan tokoh lain. Tokoh Azzam digambarkan sebagai pemuda yang bertanggung jawab, gigih, pekerja keras, ulet. Kesan itu kita peroleh dari pandangan tokoh lain seperti Husna dan Abah seperti terdapat dalam kutipan di atas.

8. Teknik pelukisan fisik

Sejurus kemudian mereka berdua turun bersama. Eliana menyambut dengan senyum menawan di bibirnya. Siang itu putri Dubes Indonesia di Mesir itu memakai kaos panjang merah jambu yang dipadu dengan celana jeans merah tua. Rambutnya dia kucir kuda. Apa saja yang dipakai Eliana dan apa saja gaya rambutnya selalu saja menjadikannya tampak jelita.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 141)

Sebenarnya penggambaran fisik seseorang tidak secara otomatis menggambarkan karakter tokoh. Namun, setidaknya bias menunjukkan gambaran kepada pembaca tentang sosok tokoh yang diceritakan. Tokoh Eliana dalam kutipan di atas digambarkan sebagai perempuan yang cantik, pandai berdandan, dan supel.

9. Teknik pelukisan latar

Sebenarnya, selesai shalat Subuh, Eliana langsung ingin jalan. Tapi, Bu Nafisah menahan, “Ibu tidak ridha kalau pergi sebelum mandi di rumah ini dan belum sarapan di sini.” Akhirnya Eliana mengalah. Ia akhirnya terpaksa mandi sarapan di rumah Azzam. Eliana ganti pakaian di kamar Husna. Kamar sederhana. Tapi rapi, bersih menebar rasa cinta siapa saja yang masuk di dalamnya. Meskipun sederhana, tapi kamar itu membuat betah siapa saja yang memasukinya. Demikian juga Eliana.

(Habiburrahman; KCB episode 2 hlm 152)

Dengan memahami penggambaran kamar Husna, kita bias mengetahui bagaimana watak Husna yang suka pada kebersihan keindahan, dan kesederhanaan. Perhatikan kalimat kamar itu membuat betah siapa saja yang memasukinya.

10. Teknik pemberian nama tertentu

Teknik pemberian nama (naming) tidak ditemukan dalam novel ini.

Kesimpulan

Novel KCB episode 2 menggambarkan tokoh-tokohnya dengan berbagai teknik. Teknik analitik dan dramatic digabungkan untuk memunculkan efek dalam terhadap karakter tokoh tersebut. Hampir semua metode yang diungkapkan Suminto A. Sayuti dalam buku Berkenalan dengan Prosa Fiksi digunakan dalam novel ini. Hanya teknik naming yang tidak ditemukan. Hal ini mungkin berkaitan dengan latar belakang releigius yang menghindari penyebutan nama orang yang tidak baik.

Meskipun semua tokoh digambarkan dengan berbagai metode, saya melihat bahwa penokohannya masih ringan. Artinya tanpa harus bekerja keras dengan mudah para pembaca memahami karakter setiap tokoh.

Kecenderungan tokoh dalam novel ini statis. Jarang sekali muncul perubahan karakter yang drastis dalam menyikapi setiap keadaan. Tokoh Azzam misalnya, dari awal diceritakan sebagai tokoh yang saleh dan berbakti kepada orang tua. Sebesar apa pun masalah yang dihadapinya, karakter yang muncul adalah kesalehan tadi, misalnya, sabar, bijaksana, penyayang, dan sebagainya. Kalaupun ada penyimpangan, seketika itu juga ia akan kembali kepada watak aslinya.

DAFTA PUSTAKA

El Shirazy, Habiburrahman. 2008. Ketika Cinta Bertasbih (Dwilogi Pembangunan Jiwa) Episode 2. Cet. Ke-5. Jakarta: Penerbit Republika

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Puisi. Cet. Ke-6. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media

Sumardjo, Jakob. 1986. Novel Indonesia Mutakhir; sebuah kritik. Cet. Ke-3. Bandung: Nur Cahaya

About these ads

2 Tanggapan to “Cara Penggambaran Tokoh dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih (Episode 2)”

  1. Missi Nurhayati Says:

    Terima kasih,,,
    sangat membantu dalam mengerjakan tugas resensi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: