QUANTUM TEACHING

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING

DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

  1. Pendahuluan

Pendidikan di Indonesia ditengarai mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Keterbelakangan tersebut disebabkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggara.

  2. Pembelajaran yang diselenggarakan bersifat pemindahan isi (content transmission). Tugas pengajar hanya sebagai penyampai pokok bahasan. Mutu pengajaran menjadi tidak jelas karena yang diukur hanya daya serap sesaat yang diungkap lewat proses penilaian hasil belajar yang artifisial. Pengajaran tidak diarahkan kepada partisipatori total peserta didik yang pada akhirnya dapat melekat sepenuhnya dalam diri peserta didik.

  3. Aspek afektif cenderung terabaikan.

  4. Diskriminasi penguasaan wawasan terjadi akibat anggapan bahwa yang di pusat mengetahui segalanya dibandingkan dengan yang di daerah, yang di daerah merasa lebih mengetahui dibandingkan dengan yang di cabang, yang di cabang merasa lebih mengetahui dibandingkan dengan yang di ranting, begitu seterusnya. Jadi, diskriminasi sistematis terjadi akibat pola pembelajaran yang subjek-objek.

  5. Pengajar selalu mereduksi teks yang ada dengan harapan tidak salah langkah. Teks atau buku acuan dianggap segalanya. Jika telah menyampaikan isi buku acuan, berhasillah dia.

Ketidakpuasan terhadap hasil pendidikan juga bisa kita cermati dalam puisi Seonggok Jagung di Kamar karya W.S. Rendra berikut ini.

Seonggok jagung di kamar

Dan seorang pemuda yang kurang sekolahan

memandang jagung itu

Sang pemuda melihat ladang

Ia melihat petani

Ia melihat panen

Dan suatu hari Subuh

para wanita dengan gendongan pergi ke pasar

Dan ia juga melihat

Suatu pagi hari dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung menjadi maizena

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala

di dalam udara murni tercium bau kue jagung

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda

Ia siap menggarap jagung

Ia melihat kemungkinan

Otak dan tangan siap bekerja

Tapi ini

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SMA

Tak ada uang

tak bisa menjadi mahasiswa

hanya ada seonggok jagung di kamar

ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta

ia melihat dirinya ditendang dari diskotik

ia melihat dirinya sepasang sepatu knes di balik etalase

ia melihat saingannya naik sepeda motor

ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal

Seonggok jagung di kamar

Tidak menyangkut pada akal

Tidak akan menolongnya

Seonggok jagung di kamar

Tak akan menolong pemuda

Yang pandangan hidupnya berasal dari buku

Dan tidak dari kehidupan

Yang tidak terlatih dalam metode

Dan hanya penuh dengan hapalan kesimpulan

Yang hanya terlatih sebagai pemakai

Tapi kurang mampu latihan bebas berkarya

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan

Aku bertanya

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah-tengah kenyataan persoalan

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya mendorong seseorang

Menjadi layang-layang ibu kota

Kikuk pulang ke daerahnya

Apakah gunanya seorang belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran

atau apa saja

Bila pada akhirnya

Ketika pulang ke daerahnya

Lalu berkata

Di sini aku merasa asing dan sepi”

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kita tidak perlu saling menyalahkan. Tapi jangan juga merasa tidak mempunyai masalah. Yang perlu dilakukan adalah mencoba membenahi kekurangan-kekurangan dalam setiap aspek. Sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, sedikit demi sedikit harus mulai dipenuhi. Guru yang masih bersikap tradisional, harus mulai inovatif dalam pembelajaran, siswa yang masih malas dituntut untuk meningkatkan motivasinya, dan sebagainya.

Guru sebagai faktor dominan dalam pendidikan dituntut lebih inovatif. Bagaimana menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia nyata di sekitar peserta didik. Bagaimana mengaitkan ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat dimanfaatkan para siswanya dalam kehidupan sehari-hari. Kita sangat kagum dengan tokoh McGyver dalam sebuah film yang menunjukkan aplikasi pengetahuan yan dimilikinya untuk memecahkan masalah-masalahnya. Alangkah hebatnya jika pendidikan di Indonesia menciptakan McGyver-McGyver baru dalam tingkatan yang sederhana sekalipun.

Salah satu model pembelajaran yang inovatif dan kreatif baru-baru ini diperkenalkan kepada masyarakat. Model tersebut bernama Quantum Teaching. Untuk memperkenalkan model ini, pemerintah telah mengirimkan buku rujukannya kepada setiap sekolah. Namun sayang, minat baca guru yang rendah menyebabkan model Quantum Teaching ini belum banyak dikenal secara mendalam. Buku yang dikirim pemerintah hanya sebagai pengisi lemari buku di perpustakaan.

Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk lebih mengenalkan Quantum Teaching. Bukunya yang sudah sangat operasional dikembangkan dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia. Melalui tulisan ini diharapkan guru bahasa Indonesia khususnya, dapat menggunakan Quantum Teaching sebagai alternative model pembelajaran yang digunakan.

  1. Teori Quantum Teaching

Quantum Teaching dikembangkan oleh Bobbie dePorter dan kawan-kawan yang dimulai di SuperCamp, sebuah pemercepatan Quantum Learning. Teori pendidikan yang melandasinya adalah Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder), Experiential Learning (Hahn), Cooperative Learning (Johnson and Johnson). Model ini mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar.

Asas utama Quantum Teaching adalah konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Asas ini mengingatkan kita pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Caranya dengan mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan sebuah peristiwa pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan para siswa. Setelah kaitan itu terbentuk, bawalah ke dunia guru dengan memberi siswa pemahaman tentang isi dunia ini. Akhirnya, dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan yang lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.

Quantum Teaching memiliki lima prinsip yaitu 1) Segalanya berbicara, 2) Segalanya Bertujuan, 3) Pengalaman sebelum pemberian nama, 4) Akui setiap Usaha, dan 5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Prinsip-prinsip ini memengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching.

Quantum Teaching dibuat berdasarkan kerangka belajar yang dikenal sebagai TANDUR.

  • TUMBUHKAN

Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BAgiKU (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan pelajar.

  • ALAMI

Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar

  • NAMAI

Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi; sebuah masukan

  • DEMONSTRASIKAN

Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”

  • ULANGI

Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini.”

  • RAYAKAN

Pengakuan utnuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

  1. Model Pembelajaran Quantum Teaching

Quantum Teaching dibagi menjadi dua seksi utama: konteks (context) dan isi (content). Konteks adalah latar untuk pengalaman. Konteks meliputi lingkungan yang mendukung, suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, dan rancangan belajar yang dinamis. Unsur-unsur ini berpadu dan kemudian menciptakan pengalaman yang menyeluruh. Seksi isi berkaitan dengan keterampilan penyampaian untuk kurikulum apa pun, di samping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari meliputi penyajian yang prima, fasilitasi yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.

  1. Konteks

Konteks menata panggung belajar dan mempunyai empat aspek: suasana, landasan, lingkungan, dan rancangan. Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh kegembiraan membawa kegembiraan pula dalam belajar. Landasan adalah kerangka kerja : tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar. Lingkungan adalah cara guru menata ruang kelas: pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik-semua hal yang mendukung proses belajar. Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur yang penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi.

Jika keempat aspek ini ditata dengan cermat, suatu keajaiban akan terjadi. Konteks itu sendiri benar-benar menciptakan rasa saling memiliki, yang kemudian akan meningkatkan rasa memiliki dan penghargaan. Kelas akan menjadi komunitas belajar, tempat yang dituju para siswa dengan senang hati, bukan karena keterpaksaan.

  1. Suasana yang menggairahkan

Suasana menunjukkan arena belajar yang dipengaruhi emosi. Suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis. Bahan-bahan kunci untuk membangun suasana yang bagus adalah niat, hubungan, kegembiraan dan ketakjuban, pengambilan resiko, rasa saling memiliki, dan keteladanan.

  1. Landasan yang Kukuh

Seperti suasana, landasan yang kukuh berperan sebagai bagian penting dari komunitas belajar. Meskipun aspek-aspek setiap landasan bersifat unik dan individual sebagaimana uniknya tiap sekolah dan kelas, unsur-unsurnya tetap sama: tujuan yang sama, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sama, keyakinan kuat mengenai belajar dan mengajar, dan kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan peraturan yang jelas.

  1. Lingkungan yang Mendukung

Sebagaimana kita menyiapkan rumah untuk menyambut kedatangan tamu, lingkungan kelas harus dipersiapkan kedatangan siswa sebagai tamunya. Lingkungan yang ditata untuk mendukung belajar dapat berkata, “Belajar itu segar, hidup, penuh semangat. Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar. Lingkungan yang memacu belajar dan meningkatkan daya ingat siswa memiliki ciri: 1) lingkungan sekeliling yang menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, 2) alat bantu yang dapat mewakili suatu gagasan, 3) Susunan bangku yang dapat diatur ulang untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan, 4) Musik untuk menata suasana hati, mengubah mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar.

  1. Rancangan Pengajaran yang Dinamis

Rancangan pengajaran menjembatani jurang antara dunia guru dan dunia siswa dengan cepat dan alami setiap saat. Rancangan pengajaran memuaskan gaya belajar siswa, memanfaatkan serangkaian kecerdasan siswa, melejitkan motivasi siswa, dan menyiapkan mereka untuk meraih kesuksesan.

Pengajaran disesuaikan dengan modalitas visual, auditorial, dan kinestestetik. Meskipun kebanyakan orang memiliki akses ke ketiga modalitas, hampir semua orang cenderung pada salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan, dan komunikasi. Orang juga memanfaatkan kombinasi modalitas tertentu yang memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu. Semakin banyak modalitas yang dilibatkan secara bersamaan, belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat.

  1. Isi

Dalam Quantum Taeching, isi mencakup presentasi (strategi dan teknik yang jelas untuk memastikan bahwa presentasi memiliki dampak), fasilitasi (siswa dan kurikulum disusun secara harmonis dan serempak), keterampilan belajar , dan keterampilan hidup. Keterampilan belajar dan keterampilan hidup ini memberi siswa ketajaman yang mendorong mereka menjadi pelajar quantum dan komunikator kuantum.

  1. Presentasi Prima

Presentasi prima disajikan oleh guru quantum dengan ciri-ciri: antusias, berwibawa, positif, supel, humoris, luwes, menerima, fasih, tulus, spontan, menarik dan tertarik, menganggap siswa “mampu”, menetapkan dan memelihara harapan tinggi. Seorang guru quantum mengajarkan keterampilan hidup di tengah-tengah keterampilan akademis, mendahulukan interaksi dalam lingkungan belajar, memerhatikan kualitas interaksi antarpelajar, antara pelajar dengan guru, dan antara pelajar dengan kurikulum.

Presentasi prima menggunakan prinsip komunikasi ampuh yaitu 1) munculkan kesan (perkataan yang menimbulkan asosiasi positif), 2) arahkan fokus (perkataan yang mengarahkan benak siswa pada asosiasi yang paling mendukung belajar), 3) inklusif (bersifat mengajak semua orang), 4) spesifik (tepat sasaran).

Presentasi juga didukung oleh komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal menggunakan kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok.

  1. Fasilitasi yang Elegan

Sebagai seorang quantum teacher, guru menempatkan prioritas tinggi pada interaksi dalam lingkungan belajar Guru harus mengorkestrasi interaksi antara pelajar dan kurikulum. Caranya dengan mengetahui apa yang diinginkan sebagai hasil akhir. Mulai dengan visi yang jelas mengenai hasilnya. Dengan mengetahui hasil yang diinginkan secara jelas, guru akan mampu tetap pada jalur dan memudahkan kesuksesan siswa. Agar tetap berada pada jalur dan menjaga minat para pelajar, Gunakan KEG: Know what you want (ketahuilah yang Anda inginkan), Explain what you want (jelaskan yang Anda Inginkan); Get what you want (Dapatkan yang Anda Inginkan).

Memfasilitasi kesuksesan siswa dapat juga mengunakan strategi empat komponen yaitu 1) gambaran keseluruhan, 2) masukkan multisensory, 3) pemotongan menjadi segmen-segmen, 4) pengulangan sesering mungkin.

  1. Keterampilan Belajar

Dengan keterampilan belajar yang tepat, semua siswa dapat memahami sebagian besar informasi dalam waktu yang lebih singkat.Siswa belajar lebih cepat dan lebih efektif jika mereka menguasai keterampilan penting ini:

  • Konsentrasi terfokus

  • Cara mencatat

  • Organisasi dan persiapan tes

  • Membaca cepat

  • Teknik mengingat

Siswa juga dapat dikelompokkan dalam 3 gaya belajar yaitu tipe visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik. Untuk tipe visual pelajar didorong membuat banyak simbol dalam catatan mereka. Tipe auditorial lebih suka merekam pada kaset daripada mencatat. Mereka harus diperbolehkan berbicara dengan suara perlahan pada diri mereka sendiri. Pelajar kinestetik menyukai proyek terapan. Mereka suka belajar melalui gerakan.

Siswa perlu berlatih mencapai keadaan belajar terbaik melalui teknik SLANT dan Keadaan Alfa. SLANT singkatan dari Sit up in their chair, Lean forward, Ask Questions, Nod their head, Talk to their teacher. Teknik ini adalah cara siswa memperhatikan di kelas dengan mengatur keadaan mereka sendiri. Sedangkan teknik keadaan Alfa adalah kondisi konsentrasi yang santai. Diyakini, dalam keadaan Alfa siswa belajar dengan laju yang jauh lebih cepat. Kedua teknik ini mengembangkan sikap positif mengenai belajar. Siswa merasa santai dan terpusat, tidak tertekan dan cemas.

Siswa juga perlu menguasai teknik mencatat yang efektif yaitu peta pikiran dan Catatan:TS. Peta pikiran (mind mapping). Dengan peta pikiran, catatan yang dibuat membetuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topic utama di tengah dan sub topic dan perincian menjadi cabang-cabangnya. Catatan:TS singkatan dari catatan: Tulis dan Susun. Siswa mencatat baik fakta dari pelajaran maupun asosiasi, pikiran dan perasaan yang mengantarkan mereka ke perjalanan mental mereka.

Quantum reading memanfaatkan kemampuan otak untuk menangkap beberapa kata sekaligus. Langkah-langkahnya adalah

  • Jadilah pelajar yang ingin tahu

  • Masuki keadan konsentrasi yang terpusat

  • SuperScan

  • Membaca

  • Mengulang

Untuk memaksimalkan memori, guru harus membuat informasi bermakna. Biasanya siswa tidak mengingat informasi saat ujian karena informasi tak terlalu bermakna bagi mereka. Mengetahui apa pentingnya suatu informasi akan sangat membantu siswa mengingatnya.

  1. Keterampilan Hidup

Siswa harus dibantu mengembangkan keterampilan hidup. Siswa memperoleh kepercayaan diri, mempelajari cara-cara mengekspresikan diri, dan merasa bersemangat mengenai kemungkinan-kemungkinan potensi diri mereka. Ada satu set prinsip yang disebut 8 kunsi keunggulan yaitu

  • Integritas: bersikap jujur, tulus, dan menyeluruh.

  • Kegagalan awal kesuksesan: kegagalan hanyalah memberikan informasi yang dibutuhkan untuk sukses

  • Bicaralah dengan niat baik: Berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawab untuk komunikasi jujur dan lurus

  • Hidup saat ini: Pusatkan perhatian pada saat sekarang ini dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.

  • Komitmen: Penuhi janji dan kewajiban.

  • Tanggung jawab: bertanggungjawablah atas tindakan kita

  • Sikap luwes da fleksibel: Bersikaplah terbuka terhadap perubahan dan pendekatan baru

  • Keseimbangan: Jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa.

Strategi yang bisa digunakan untuk melatih keterampilan hidup misalnya adalah Hidup di atas garis, Open The Front Door, dan It’s All About My Relationship.”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: