RPP Bercerita

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah

: SMP

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas /Semester

: VII/1

Standar Kompetensi

4. Mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan bercerita.

Kompetensi Dasar

: Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat.

Indikator

(1) Mampu membuat deskripsi peragaan bercerita.

(2) Mampu bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat.

Alokasi Waktu

: 2 X 40 menit ( 2 pertemuan)

1. Tujuan Pembelajaran

Disediakan sebuah cerita lengkap, siswa mampu

  1. membuat deskripsi peragaan bercerita sesuai dengan isi cerita.
  2. bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur dan mimik yang tepat sesuai dengan deskripsi peragaan bercerita.

2. Materi Pembelajaran

  1. Teknik-teknik bercerita
  2. Bercerita dengan urutan yang tepat, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat.

3. Metode Pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL)

4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

a) Kegiatan awal

1) Siswa bersama guru berdialog tentang pengalaman yang berkaitan dengan cerita misalnya siapa saja yang sering mendengar cerita, cerita apa saja yang pernah didengar, siapa saja yang suka bercerita kepada mereka, apa saja manfaat yang dirasakan dari cerita yang didengar? Dengan dialog ini, guru akan mengetahui bagaimana pengalaman siswa tentang cerita dan ketertarikan mereka tentang cerita.

2) Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang KD dan tujuan pembelajaran. Kompetensi dasar bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur dan mimik yang tepat.

3) Siswa juga berdialog dengan guru tentang manfaat kompetensi bercerita dalam kehidupan. Ada beberapa orang yang mempunyai penghasilan dari kemampuan bercerita/ mendongeng seperti Pak Mtoh, dalang, dan pembaca dongeng di radio. Dialog ini diarahkan untuk membangun minat siswa mempelajari kemampuan bercerita.

b) Kegiatan Inti

1) Siswa mendengarkan cerita guru sebagai model bercerita. Cerita disampaikan menggunakan peragaan. Pada saat bercerita guru memeragakan peristiwa-peristiwa untuk memberikan penegasan dan imajinasi kepada anak. Di sinilah diperlihatkan bagaimana volume suara, intonasi, mimik, dan gestur diperlukan dalam bercerita. Para siswa menyimak cerita tersebut sambil memperhatikan peragaan bercerita yang ditampilkan guru. Proses ini menunjukkan model bercerita dengan peragaan. Cerita yang dibawakan misalnya, Man Doblang. Sebelumnya siswa diajak dulu berbicara tentang kerajaan Mataram yang ada di Jawa. Dalam cerita rakyat Jawa dikenal juga seorang tokoh lugu dan cerdik mirip tokoh Abu Nawas di Timur Tengah. Namanya Man Doblang. Berikut ini salah satu ceritanya.

Peragaan bercerita

Isi Cerita

Menirukan gerakan menyembah

Menunjukkan tinggi badan

Menunjukkan kepala

Dengan nada memohon, tangan dirapatkan di depan dada

Tunjukkan mimik gembira

Suara lebih berat agak terdengar berwibawa

Menunjukkan rambut kemudian kaki

Menirukan gerakan menyembah

Tangan direntangkan

Berpura-pura mengukur tinggi badan sendiri

Tersenyum

Man Doblang

(Tinggi Badan Baginda Raja)

Kesulitan rakyat Mataram tidak hanya datang dari kekuasaan rakus Belanda. Kadang juga dari kalangan keraton sendiri. Lebih sulit lagi jika pangkal soalnya adalah Baginda Raja sendiri. Masalah Raja menjadi malapetaka. Baginda Raja tetaplah dianggap penguasa tunggal, penguasa tertinggi. Sampai sekarang pun, bayangan tubuhnya tak ada yang berani menginjak. Memandang langsung pun tak diizinkan, kecuali sedang diajak bercakap. Itu pun diawali dan diakhiri dengan gerakan menyembah.

Masalah sederhana ini terjadi ketika Mantri Pribadi harus mengisi formulir mengenai data diri Baginda Raja. Kolom mengenai tanggal lahir, nama keluarga, berat badan, semua bisa terisi. Kecuali kolom tinggi badan Baginda Raja. Isinya masih titik-titik. Karena tidak ada yang berani mengukur tinggi badan Baginda Raja. Karena itu artinya menyentuh kepala Baginda Raja. Mantri Pribadi pernah meminta tolong Permaisuri agar mengukur tinggi Badan Baginda kala tidur. Tapi upaya ini gagal karena Permaisuri takut saat diukur Baginda terbangun. Pernah pula diupayakan cara lain. Ketika Baginda Raja berdiri dekat dinding, diperkirakan tingginya. Tapi ini tidak akurat. Kalau berbohong mengenai Baginda Raja, hukumannya sangat berat.

Dalam keadaan putus asa, Mantri Pribadi menemui Man Doblang untuk minta tolong.

“Kepada siapa lagi saya minta tolong, Paman?”

“Bawa meteran, langsung diukur. Kalau Baginda Raja marah, katakan bahwa Pak Mantri diperintahkan mengisi formulir.”

“Saya bisa dipecat, dan seluruh keluarga saya akan dihukum.”

“Karena Pak Mantri sudah berusaha sepenuh tenaga, saya bersedia membantu.” Mantri Pribadi sangat gembira. Meskipun masih was-was akan nasib Man Doblang. Dengan cara bagaimana Man Doblang mengukur tinggi badan Baginda Raja?

Agaknya Baginda Raja telah mengetahui bahwa Man Doblang akan menemui untuk mengukur tinggi badannya. Pada kesempatan pertama, permohonan menghadap Man Doblang langsung diizinkan.

“Ingsun memang ingin menguji para mantri dan cerdik cendikiawan di keraton ini,” kata Baginda Raja yang selalu menyebut dirinya dengan ‘ingsun’. “Akhirnya, kamu juga akan maju menghadap Man Doblang. Apakah kamu akan mengukur dari ujung rambut ke ujung kaki ingsun?”

Man Doblang menyembah. “Tidak ada yang berani melakukan perbuatan yang kurang ajar itu.”

“Lalu bagaimana caramu?”

“Hamba memohon Baginda mengukur sendiri.”

“Ingsun tidak mau melakukan itu. Kalian yang harus berusaha untuk Ingsun.”

“Kalau demikian halnya, perkenankan Baginda mengukur panjang tangan Baginda yang direntangkan.”

Meskipun bertanya-tanya dalam hati, Baginda Raja mengukur panjang tangan yang direntangkan. “Seratus enam puluh delapan senti.” “Kalau demikian, tinggi badan Baginda seratus enam puluh delapan senti.”

“Mana mungkin?”

Kali ini Baginda mengukur tinggi tubuhnya. Dari ujung kaki yang menginjak. Persis sama!

“Luar biasa, kamu memang luar biasa Man Doblang. Kamu bisa mengukur tinggi tubuh ingsun, bahkan tanpa menyentuh sehelai rambut ingsun. Luar biasa.”

“Begitu ukuran tubuh kita semua, Baginda…”

“Kalau ternyata tidak cocok?”

“Bahkan, kita telah mengetahui tinggi badan Baginda yang sesungguhnya karena Baginda telah mengukur sendiri?”

Baginda Raja puas dengan jawaban Man Doblang. Bahkan, kemudian menawarkan jabatan sebagai Mantri Pribadi. Atau jabatan lain yang setingkat dengan itu. Atau bahkan Mantri Perang! Man Doblang menolak dengan halus.

“Seorang mantri adalah ibarat jari dan tangan Paduka Baginda. Mereka harus orang yang tepat dan menguasai kementriannya. Tujuannya memperingan tugas Baginda…”

Ini bukan pertama kalinya Man Doblang menolak jabatan atau pangkat tinggi. Bagi Man Doblang bukan harta, bukan juga kekuasaan yang dicari. Melainkan ketenangan dan kedamaian dan bisa membantu sesama. Ini semua bisa dilakukan tanpa perlu jabatan yang tinggi atau kekuasaan yang besar.

2) Siswa mengidentifikasi rangkaian peristiwa dalam cerita Man Doblang

Misalnya:

· Raja sangat disegani dan dihormati.

· Mantri harus mengisi data raja, tetapi kesulitan mengetahui tinggi badan.

· Tidak ada yang berani mengukur tinggi badan raja.

· Mantri meminta bantuan Man Doblang yang terkenal cerdik.

· Man Doblang menyanggupi permohonan Mantri.

· Raja menerima Man Doblang untuk mengukur tinggi badan raja.

· Man Doblang meminta Raja mengukur tinggi badannya sendiri.

· Raja menolak mengukur sendiri.

· Man Doblang meminta raja merentangkan tangannya.

· Man Doblang mengukur panjang rentangan tangan raja.

· Man Doblang menyatakan tinggi badan Raja dari panjang rentangan tangan.

· Raja mengukur tinggi badannya sendiri untuk membuktikan pernyataan Man Doblang.

· Tinggi badan Raja sama dengan panjang rentangan tangan raja.

· Man Doblang ditawari jabatan oleh raja

· Man Doblang menolak dengan halus.

3) Siswa mencoba menirukan suara Baginda yang berwibawa. Dalam istilah kerajaan, jika Raja berbicara disebut bersabda. Siswa juga mencoba menirukan suara raja yang sedang marah, misalnya.

4) Siswa menirukan gerak-gerik raja. Gerak gerik yang ditirukan misalnya pada saat berbicara, berjalan, marah, memerintah, dan sebagainya.

5) Siswa menirukan gerakan pada saat berbicara dengan raja. Misalnya diawali dengan menyembah, berjalan dengan terbungkuk, menundukkan kepala, dsb.

6) Siswa membuktikan Teori Man Doblang tentang tinggi badan manusia. Mereka mengukur panjang rentangan tangan dan membandingkannya dengan tinggi badan sesungguhnya.

7) Siswa menyadari bahwa gerakan-gerakan dan perubahan suara pada saat bercerita dapat membantu pemahaman dan daya tarik dongeng yang disampaikan. Petunjuk gerakan dan perubahan suara tersebut dapat dideskripsikan sebagai peragaan bercerita dan ditulis di sebelah kiri naskah. Contoh diperlihatkan kepada siswa

8) Siswa kemudian duduk berkelompok. (Sekitar 5 kelompok). Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kemudian setiap kelompok memilih salah satu cerita yang telah disiapkan. Siswa membaca naskah cerita yang telah dipilih. Setiap kelompok mendapat judul cerita yang berbeda.

9) Dalam kelompoknya, siswa mendiskusikan deskripsi peragaan bercerita sesuai dengan cerita yang dibacanya. Peragaan bercerita tersebut ditulis di kolom sebelah kiri cerita.

10) Siswa berlatih membacakan cerita sesuai dengan peragaan bercerita yang telah didiskusikan. Setiap anggota kelompok mencoba membacakan cerita.

c) Kegiatan akhir

1) Siswa dan guru melakukan refleksi dengan menanyakan kesulitan siswa dalam kegiatan diskusi.

2) Guru memberikan tugas berlatih bercerita untuk pertemuan berikutnya. Setiap kelompok diminta untuk memperbanyak naskah cerita yang telah dilengkapi peragaan bercerita, yang akan diberikan kepada guru (untuk penilaian). Naskah tersebut dikumpulkan pada pertemuan kedua.

Pertemuan Kedua

a) Kegiatan awal

1) Guru bertanya jawab dengan siswa tentang persiapan setiap kelompok untuk bercerita. Setiap sekelompok mempersiapkan diri untuk tampil bercerita. Naskah cerita yang telah dilengkapi peragaan bercerita dikumpulkan kepada guru.

2) Siswa menyepakati unsur-unsur penilaian dalam kegiatan bercerita. Setiap kelompok yang tampil, dinilai dan dikomentari oleh satu kelompok yang tidak tampil.

b) Kegiatan Inti

1) Siswa bercerita secara berkelompok dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat. Setiap anggota kelompok mendapat giliran untuk bercerita

2) Satu kelompok lain menilai kelompok siswa yang tampil dengan mengisi format pengamatan.

3) Kelompok pengamat memberikan komentar pada kelompok yang tampil. Kelompok penampil diberi kesempatan untuk menjawab komentar temannya. Semua siswa memberikan tepuk tangan kepada setiap kelompok yang sudah tampil.

4) Siswa dan guru menentukan kelompok pencerita terbaik.

5) Kelompok pencerita terbaik mendapatkan penghargaan dari guru dan teman-teman.

6) Guru dan siswa menyimpulkan pelajaran terkait kegiatan bercerita.

c) Kegiatan akhir

1) Guru melakukan refleksi dengan bertanya tentang kesulitan siswa.

2) Siswa berjanji menambah perbendaharaan cerita mereka dengan cara banyak membaca.

5. Sumber belajar

a) Buku-buku cerita dan cara bercerita seperti

1) The Values Book for Children: 17 Cerita Moral & Aktivitas Anak karangan Shirley C. Raines & Rebecca Isbel

2) Memilih, menyusun, dan menyajikan Cerita untuk Anak Usia Dini karangan Mbak Itaz.

b) Buku Sekolah Elektronik :

1) Kompetensi Bahasa Indonesia SMP dan MTs kelas VII karangan Nia Kurniati Sapari

2) Aktif Berbahasa Indonesia untuk SMP Kelas VII karangan Dewi Indrawati

3) Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMP/ MTs kelas VII karangan Maryati Sutopo

4) Kompetensi Berbahasa Indonesia 1 untuk SMP/Mts kelas VII karangan Ratna Susanti

5) Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku untuk SMP dan MTs kelas VII karangan Sarwiji Suwandi

6) Membuka Jendela Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia 1 SMP/ MTs kelas VII karangan Dwi Hariningsih dkk.

6. Penilaian

a) Teknik : Tes unjuk kerja

b) Bentuk instrumen : Uji petik kerja berupa kegiatan bercerita dan produk berupa deskripsi peragaan bercerita

c) Instrumen penilaian

Lampiran 1: Contoh soal

1) Tuliskanlah deskripsi peragaan bercerita pada cerita yang akan dibacakan kelompok kalian pada kolom sebelah kiri!

Kelompok I

Peragaan Bercerita

Isi Cerita

Keserakahan Hiroki

Di sebuah desa, tinggallah dua orang kakak-beradik. Sifat

kedua bersaudara ini sangat berbeda, yang tua bernama

Hiroki, suka berbuat sesuka hatinya dan sangat licik,

sedangkan adiknya bernama Toshiro, mempunyai sifat

sebaliknya: rajin bekerja dan jujur hatinya. Hiroki selalu iri hati dan selalu mengasingkan adiknya. Toshiro sudah hamper tidak tahan lagi tinggal bersama kakaknya yang jahat itu.

Toshiro sudah mempunyai seorang istri yang baik hati.

Mereka ingin mandiri. Pada suatu waktu Toshiro keluar dari rumah kakaknya dan menyewa kamar di suatu tempat

bersama istrinya. Mereka menjalani kehidupan yang baru.

Akan tetapi, Toshiro tidak mendapatkan penghasilan yang

cukup untuk membiayai keperluan hidupnya. Mereka selalu mengalami kesusahan walaupun sudah bekerja dengan giat dan rajin. Menjelang tahun baru, mereka tidak mempunyai uang untuk membeli beras. Akhirnya, Toshiro memberanikan diri datang ke rumah kakaknya untuk meminjam beras. “Kak, tolong pinjami saya beras barang satu kilo saja,” katanya. Tetapi kakaknya tak menghiraukannya. Lalu Toshiro pulang.

Ia melewati gunung dan sebuah ladang. Di sana ada seorang kakek yang mengerjakan ladang itu. Waktu melintasi ladang, ia disapa oleh Si kakek, “Eh, kau

mau ke mana, Nak?”

“Besok tahun baru, tetapi saya tidak punya apa-apa untuk

dimakan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Itulah sebabnya saya hanya berjalan saja,” jawab Toshiro.

Kakek memberinya sepotong kue gandum. Lalu berkata,

“Coba kau bawa kue ini ke kuil yang ada di dalam hutan sana. Di belakang kuil itu ada sebuah lubang. Di dalamnya tinggal beberapa orang kerdil. Orang-orang kerdil itu sangat suka kuegandum seperti ini. Mereka pasti akan memintanya. Tukarkanlah kue gandum ini dengan lesung batu, jangan minta uang.” “Terima kasih, Kek!” jawab Thosiro lega.

“Enak sekali baunya, pasti kamu mempunyai kue gandum.

Kamu harus memberikan kue itu kepada kami,” kata salah

seorang dari orang-orang kerdil itu. Mereka pun mengeluarkan banyak sekali uang emas untuk ditukarkan dengan kue gandum itu. Toshiro tidak mau menukarkan kue gandumnya dengan uang. “Saya minta ditukar dengan lesung batu,” katanya menuruti nasihat kakek di gunung.

Orang-orang kerdil berunding sebentar. “Lesung batu ini

sangat langka, sayang kalau harus kita berikan. Tapi apa boleh buat, kita juga ingin makan kue gandum, biarkanlah kita tukarkan dengan kue gandum itu.”

Akhirnya, orang kerdil itu bersedia menukarkan lesung

batunya dengan kue gandum. Toshiro segera keluar dari lubang di belakang kuil sambil membawa lesung batu ini. Lalu, diputuskannya untuk bertanya lagi kepada kakek. Ternyata kakek masih bekerja di ladang. Sambil melihat lesung batu, Kakek berkata, “Kalau diputar ke kanan, lesung batu ini akan mengeluarkan barang apa saja

yang kita minta. Dan kalau diputar ke kiri akan berhenti

mengeluarkan barang-barang itu. Jagalah lesung yang sangat langka ini baik-baik.”

Mendengar kata kakek, Toshiro dengan hati sangat gembira segera pulang ke rumahnya.

Melihat suaminya pulang membawa lesung batu, istrinya

yang sudah menunggu-nunggu sangat terkejut dan bertanya, “Ke mana saja selama ini? Apa yang kamu dapat dari kakakmu?” Suaminya tersenyum. Setelah menggelar tikar, diletakkannya lesung batu yang dibawanya, lalu berkata, “Keluarkanlah beras, keluarkanlah beras.”

Keajaiban terjadi, dari dalam lesung itu keluarlah beras

sampai dua karung penuh.

Lalu si Adik berkata, “Keluarkanlah ikan salmon asin yang paling enak rasanya.” Ajaib, keluarlah ikan asin salmon seperti yang dikehendaki. Satu, dua, tiga ekor.

Ia meminta beberapa lagi barang yang diperlukan untuk

tahun baru. Keluarlah semua yang dimintanya itu.

Tahun baru itu mereka lewatkan dengan hati yang sangat

gembira.

Hiroki yang mengikuti dari belakang, melihat apa yang

dilakukan Toshiro.

“Oh, lesung ajaib. Pantas ia menjadi kaya,” pikirnya.

Hiroki sangat gembira karena mengetahui mengapa adiknya menjadi kaya. Pada malam harinya, seisi rumah itu tidur dengan lelapnya, Hiroki yang besembunyi di gudang belakang rumah, dengan mengendap-endap masuk ke kamar tempat menyimpan lesung batu. Lalu, digendongnya lesung itu dan dibawanya

lari keluar dengan hati yang sangat gembira. Selain lesung

batu, kue yang ada di kamar itu pun dicurinya.

Sampailah Hiroki di tepi pantai. Di sana ia melihat sebuah

perahu yang ditambatkan di tepi pantai. “Kebetulan sekali

ada kapal di sini,” pikirnya sambil melepaskan tali itu dan

membawanya ke tengah laut. Tujuannya ia ingin pergi ke

tempat jauh dan menjadi orang yang kaya raya.

Dengan penuh semangat, ia menyusuri pantai ke tempat

yang sangat jauh. Setelah jauh berlayar, ia mulai lapar. Lalu, dimakannya kuekue yang dicurinya bersama lesung batu sampai kenyang. Setelah kenyang, ia ingin makan sesuatu yang asin, tetapi tidak ada garam di kapal itu. Oleh karena itu, ia ingin mencoba mengeluarkan garam dari lesung batu. “Keluarlah garam, keluarlah garam,” katanya sambil memutar lesung batu itu menirukan Toshiro mengeluarkan barang.

Seketika keluarlah garam. Ia ingin menghentikan keluarnya garam dari lesung itu, tetapi tidak tahu caranya. Dicobanya mengatakan, “Berhentilah, berhentilah !”

Akan tetapi garam itu terus membanjir keluar. Lesung

terus berputar sembari mengeluarkan garam. Akhirnya,

seluruh kapal penuh dengan garam. Karena bebannya terlalu berat, kapal itu tenggelam bersama Hiroki.

Sementara si lesung ajaib masih terus berputar-putar ke

arah kanan sambil mengeluarkan garam. Dan inilah yang

diyakini orang Jepang penyebab air laut menjadi asin.

Sumber: cerita dari Jepang (Anonim)

Kelompok II

Peragaan Bercerita

Isi Cerita

Asal Mula Kota Jambi

Dahulu kala di Pulau Sumatra ada seorang gadis cantik

bernama Putri Pinang Masak. Putri ini sangat terkenal akan kecantikannya. Kulitnya putih kemerah-merahan seperti namanya, yaitu bagai kulit pinang yang masak. Siapa yang memandang pasti akan terpesona.

Akan tetapi, bukan hanya kerana kecantikan lahiriah diri gadis itu yang membuatnya terkenal, melainkan juga karena sifatnya yang lemah lembut dan baik hati sehingga membuat siapa saja akan selalu menyukainya. Para wanita dan sesama gadis ingin bersahabat dengannya, sedangkan para pemuda dan pangeran berebutan ingin mempersuntingnya. Namun, sejauh itu ia belum bermaksud berumah tangga.

Pada suatu hari, datanglah lamaran dari raja yang terkenal

kaya raya dan sangat besar kekuasaannya. Sumber

kekayaannya terutama dari tambang minyak. Jika lamarannya ditolak tentu sang raja akan murka. Mungkin akan timbul bencana peperangan. Padahal Puteri Pinang Masak tidak menyukai raja itu. Konon, karena raja itu wajahnya buruk. Putri Pinang Masak mencari akal. Bagaimana caranya menggagalkan lamaran si Raja Buruk Rupa. Maka ia berkata kepada si utusan, “Baik, lamaran aku terima tapi dengan dua syarat. Pertama, Baginda harus mampu membuatkan istana yang indah berikut isi perabotannya hanya dalam tempo waktu satu malam saja. Mulai sore sampai terdengar ayam berkokok bersahut-sahutan.”

“Yang kedua, jika Baginda gagal memenuhi syarat pertama, maka dia harus menyerahkan seluruh harta kekayaan dan kerajaannya kepada saya.”

Ternyata Baginda menyanggupi syarat itu karena beliau

sangat mencintai Putri Pinang Masak. Baginda mulai mengumpulkan rakyat dan ahli pertukangan. Bukan hanya para tukang di kerajaannya. Ia bahkan menyewa dan membayar mahal para tukang dari luar negeri yang bersedia membantunya. Ini tak jadi soal, dia toh

raja yang kaya raya. Para tukang itu diperintah bekerja dengan cepat karena istana itu harus selesai dalam waktu satu malam. Putri Pinang Masak khawatir. Padahal permintaannya untuk membuat istana dalam waktu satu malam hanyalah sekedar alasan yang dicari-cari belaka. Agar Baginda tidak jadi menikahinya. Ternyata, Baginda dari timur adalah orang yang nekad. Ketika hari menjelang pagi, istana itu hampir selesai, hanya tinggal melicinkan saja. Baginda sangat gembira. Sebuah kota baru telah muncul di tempat itu dengan tiba-tiba. Sebaliknya, Putri Pinang Masak sangat sedih. Ia tidak dapat tidur malam itu. Hatinya sangat risau. Ia terus mencari akal untuk menggagalkan niat Baginda

dari timur. Tiba-tiba, Putri Pinang Masak mendapat akal. Ia pergi ke kandang-kandang ayam. Lampu yang sangat terang dipasangnya di kandang-kandang ayam itu. Ayam-ayam mengira hari telah siang. Mereka pun langsung berkokok berulang-ulang. Baginda dan rakyat yang sedang bekerja terkejut. Dengan sangat berat hati Baginda berkata kepada rakyat dan para tukang, “Sudah, hentikan pekerjaan ini!”

“Mengapa, Baginda? Bukankah pekerjaan kita hampir

selesai?” tanya salah seorang pekerja.

“Betul katamu. Tetapi, kita telah kalah. Dalam perjanjian,

istana ini sudah harus selesai sebelum ayam berkokok,” kata Baginda. Pekerjaan dihentikan dengan sangat terpaksa. Para tukang bangunan kembali ke negeri mereka di timur. Akan tetapi, Baginda masih berdiri di tempat itu. Hatinya hancur. Putri Pinang Masak datang menemuinya.

“Baginda, Anda telah gagal memenuhi syarat saya. Apakah istana yang belum selesai ini hendak Baginda hancurkan lagi?”

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat maka Baginda Raja harus menyerahkan seluruh harta dan kerajaannya. Sejak saat itu, negeri timur diganti namanya menjadi negeri Putri Pinang Masak. Gadis cantik itu menjadi raja di negeri itu. Orang-orang dari negeri lain menyebut negeri itu sebagai Negeri Pinang. Pinang dalam bahasa Jawa adalah Jambe, maka raja-raja dari Jawa menyebutnya dengan sebutan Kerajaan Jambe.

Lama-lama sebutan Jambe berubah menjadi Jambi.

Demikianlah asal mula sebutan kota Jambi.

Sumber: Cerita dari Jambi

diterbitkan oleh Grasin

Kelompok III

Peragaan Bercerita

Isi Cerita

Perjanjian dengan Buaya

Ada seorang lelaki di Tombarri, Minahasa, bernama

Wuwung Sewe. Ia hidup sebagai nelayan. Oleh karena itu, ia sering ke sungai ataupun ke pantai. Di sungai dan di pantai itu ia memperoleh kebutuhan hidupnya. Air itu membekali hidupnya dengan sumber pangan dan alat pengangkutan.

Pada suatu hari, Wuwung Sewe turun ke muara sungai

untuk memancing. Cuaca saat itu mendung. Puncak gunung sudah bertudungkan awan. Namun, niatnya tetap teguh untuk mencari nafkah. Kail, umpan, parang, dan tempat ikan disiapkannya. Setelah siap semua, perjalanan pun dimulai. Sepanjang perjalanan, Wuwung Sewe berpikir tentang ikan-ikan yang akan dikailnya. Ia mengetahui bahwa di dalam muara sungai terdapat banyak ikan air payau seperti kakap bergaris, udang, dan kepting.

Kira-kira dua jam Wuwung Sewe mengail dengan umpan

cacing agak besar, tetapi tidak berhasil. Rasa bosan mulai

menggerogoti dirinya. Apalagi hujan rintik-rintik mulai terasa. Ia enggan pulang sebelum mendapatkan ikan untuk dibawa pulang ke rumah.

“Lebih baik aku pindah ke hilir,” pikir Wuwung Sewe. Hilir sungai biasanya berair keruh dan berlumpur karena ada butiran pasir dan sering tercemar. Wuwung Sewe mulai beranjak ke hilir dengan menyusuri buluh-buluh kecil yang tumbuh di sepanjang hilir sungai itu.

Akhirnya, ia tiba di suatu tempat yang nyaman dan

terlindung. Rumpun buluh itu melindungi tubuhnya dari

rintik hujan. Pekerjaan mengail pun dilanjutkan dengan

harapan akan mendapat banyak ikan. Tiba-tiba Wuwung Sewe melihat serumpun kecil buluh terapung di atas permukaan air menuju laut. Ia mengira itu rumpun buluh yang tumbuh di tepi sungai. Biasanya aliran ke hilir sungai makin lebar dan makin lambat. Semakin lama semakin dekat saja rumpun buluh itu.

“Ah, mungkin itu hanya tanah longsor yang akan

dihanyutkan ke laut menyusuri pantai karena banyak hujan,” pikir Wuwung Sewe.

Setelah diperhatikan dengan sungguh-sungguh, ternyata

ada yang mendekati rumpun buluh itu. Air dalam keadaan

tenang dan mengalir di depannya. Tiba-tiba di hadapan

Wuwung Sewe muncul kepala seekor buaya yang besar.

Rupanya buluh itu tumbuh di atas punggung buaya itu.

Wuwung Sewe segera melarikan diri setelah menarik kail dari dalam air. Akan tetapi, buaya itu berkata kepada Wuwung Sewe, “Hai sahabat, Tolonglah aku. Di punggungku terdapat banyak duri. Aku sudah terlalu lama menderita, tetapi tidak ada orang mau menolongku. Jika kau rela menolongku, tentu akan ada balasannya. Aku minta agar kau mencabut duri yang ada di punggungku ini. Duri ini cukup menggangguku. Aku tidak dapat menyelam dan berenang dengan bebas, bahkan aku

tidak dapat tidur dengan nyenyak. Tolonglah, sahabatku.

Tolong. Sekali lagi tolonglah!” Wuwung Sewe menjawab dengan takut karena terkejut, “Balasan atas pertolonganku tidak kupikirkan. Hanya saling menolong yang kuperlukan. Tetapi, aku ingin tahu mengapa punggungmu dapat ditumbuhi buluh yang sudah serumpun itu?”

Buaya menjawab dengan wajah memelas, “Ini perbuatan

orang di muara Sungai Ranoyapo di pantai selatan. Ketika

aku dan teman-temanku berada di tepi sungai mencari makan, aku ditombak seorang laki-laki dengan tombak buluh itu. Tombak itu menembus punggungku. Beberapa temanku berusaha mencabut tombak ini, tetapi tidak berhasil. Malah semakin lama semakin banyak buluh itu tumbuh di atas punggungku.”

Setelah mendengar keterangan dan cerita buaya, timbullah

rasa iba Wuwung Sewe. Ia berkata, “Kalau demikian, engkau akan kubantu.” Wuwung Sewe segera meloncat ke atas punggung buaya. Ia mencabut buluh-buluh yang ada di punggung buaya hingga bersih. Kemudian, diambilnya dedaunan untuk mengobati bekas luka buluh yang ada di punggung buaya. Buaya merasa senang dan sangat berterima kasih kepada Wuwung Sewe. Nama Wuwung Sewe sangat berkesan bagi buaya dan tetap diingat. Tidak hanya itu, buaya bahkan menyatakan bahwa mulai saat itu Wuwung Sewe adalah sahabatnya. Akan tetapi Wuwung Sewe berkata, “Aku ingin mengadakan perjanjian denganmu. Sumpah yang akan berlaku hingga anak cucu kita.” Buaya bersumpah, “Jika keluargamu hendak menyeberang sungai, terutama didaerah muara sungai di mana para buaya berada, janganlah kamu takut untuk menyeberang. Kamu harus mencampakkan tiga buah batu ke dalam sungai itu. Ucapkanlah, Kami anak cucu Wuwung Sewe. Sebagai tanda pada keluarga buaya, bahwa yang akan menyeberang adalah keluarga Wuwung Sewe yang sudah menolong buaya.”

Setelah menyampaikan sumpah dan petunjuk, buaya

langsung pergi sambil menyelam. Wuwung Sewe merasa

bangga dan senang. Katanya, “Kita tidak perlu takut lagi

kepada buaya sebab buaya telah berjanji kepadaku.”

Pekerjaan Wuwung Sewe pun dilanjutkan lagi.

Sumber: Seri Cerita Anak

Kelompok IV

Peragaan Bercerita

Isi Cerita

300 Tael perak

Oleh Rina Ruslaini

Dahulu kala, di daratan Cina tinggalah Kakek dan Nenek Chen. Mereka tidak mempunyai anak. Hidup mereka sehari-hari hanya mencari kayu bakar di hutan. Kayu itu nantinya dijual Kakek Chen ke kota.

Pada suatu pagi, Kakek dan Nenek Chen bersiap-siap berangkat ke hutan. Nenek tak lupa membawa bekal untuk makan siang mereka di hutan. Ketika sudah tiba di hutan, mereka melihat anak burung merpati putih menggelepar di tanah. Rupanya anak burung itu terjatuh dari pohon.

“Aduh, kasihan sekali anak burung ini,” kata Nenek sambil mengangkat merpati itu. Ia meletakkan anak burung itu di bakul makanan dengan hati-hati. “Kita rawat saja ya Kek,” ujar nenek, Kakek Chen mengangguk setuju.

Sore harinya setiba di rumah, Nenek Chen merawat anak burung itu dengan hati-hati. Nenek memberinya makanan dan meletakkannya di atas kain perca di dalam kardus.

Setelah beberapa minggu, akhirnya burung itu sembuh dan mulai

terbang di sekeliling rumah. Nenek amat gembira. “Lihat Kek, anak burungnya sudah sehat! Dia pasti mampu terbang kembali ke hutan!” Kakek Chen melihat sambil tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaannya membelah kayu. Setelah melihat anak burung itu terbang pergi, Nenek Chen kembali ke kamar dan mulai merapikan kamar. Tiba-tiba ia melihat benda

berkilauan di balik seprai. Alangkah terkejutnya Nenek Chen saat melihat tumpukan uang perak di atas kasur.

“Kek, Kakek, kemari Kek!” seru Nenek Chen. Tergopoh-gopoh

Kakek Chen masuk ke kamar. Ia sama terkejutnya dengan Nenek saat melihat tumpukan uang itu. “Mari kita hitung jumlahnya, Nek,” kata Kakek. Ternyata jumlah uang itu banyak juga, tiga ratus tael.”

Aduh Kek, uang ini dari mana ya? Kita apakan, ya? Nenek takut… kalau dicuri bagaimana? Ujar nenek bingung. Kakek Chen berpikir keras.

“Ah, kita taruh di guci kecil, lalu kita kubur di halaman saja ya Nek,” usul Kakek gembira. Nenek pun setuju.

Di saat hari mulai gelap, Kakek menggali di halaman. Ia mengubur 300 tael itu di sana. Dua hari kemudian, Nenek masih merasa gelisah. Ia berkata, “Kek bagaimana kalau kita lupa dengan tempat penyimpanan uang itu? Halaman kita begitu luas. Sekarang saja aku sudah bingung. Apalagi bulan depan!”

“Iya, ya Nek. Apalagi kita sudah mulai pikun. Ah! Bagaimana kalau tempat penyimpanan uang kita beri tanda agar kita tidak lupa?” Nenek Chen setuju. Malam harinya, Kakek langsung melaksanakan idenya itu. Keesokan paginya, Nenek terbangun karena suara-suara rebut di luar. Tanpa membangunkan Kakek, ia segera beranjak ke luar. Betapa terkejutnya Nenek saat melihat para tetangga sedang berkerumun di halaman rumahnya. Mereka menunjuk-nunjuk palang yang ditancapkan Kakek tadi malam. Di palang itu tertulis : TIDAK ADA UANG 300 TAEL DI SINI.

“Nek, Nenek menyimpan uang di sini ya?” tanya seorang tetangga begitu melihat Nenek.

“Uhmmm”, Nenek bingung. Tiba-tiba ia melihat anak burung merpati terbang di sekeliling halamannya. Itu anak burung merpati yang pernah dirawatnya dulu. Burung itu masuk ke dalam rumah, lalu berubah wujud menjadi seorang peri cantik.

“Nenek yang baik, terima kasih karena kau telah merawatku sampai sembuh. Uang itu aku berikan sebagai tanda terima kasihku padamu. Tapi rupanya kalian tidak siap menerima pemberianku. Aku akan mengambil kembali uang itu, ” ujar peri lembut. Saat itu juga, guci kecil berisi uang yang ditanam Kakek Chen muncul di tangan peri itu. Palang yang tertancap di halaman juga lenyap. Para tetangga kembali ke rumah masing-masing. Nenek masih terpaku karena kaget dan bingung. Saat akan bicara, tiba-tiba peri itu menghilang. Yang ada hanya asap putih dan cahaya warna-warni dari pakaian sang peri.

Lama Nenek terdiam. Tiba-tiba ia melihat benda berkilauan di tempat peri tadi berdiri. Nenek memungut. Ternyata benda yang berkilauan itu adalah uang perak sebanyak 10 tael. Tiba-tiba terdengar sebuah suara,

“Aku tinggalkan uang itu, gunakanlah dengan baik.”

Tak lama terdengar suara Kakek yang mengagetkan Nenek. “Ada apa Nek? Kenapa wajahmu pucat sekali?”

Nenek Chen memperlihatkan uang 10 tael di telapak tangannya. Lalu menceritakan peristiwa tadi. Kakek tersenyum sabar, “Kita jadi tidak repot mencari tempat menyimpan uang, kan …”

(Dongeng dari Cina)

Sumber: Bobo, 28 Desember 2006

Kelompok V

Peragaan Bercerita

Isi Cerita

Ketamakan An Li

Oleh Rikianarsyi A

Di sebuah kota, hiduplah seorang saudagar kaya namun tamak yang bernama An Li. Suatu hari, saat An Li sedang berjalan-jalan, ia mendengar percakapan dua penduduk desa.

“Menurut cerita, di dalam hutan itu, ada sebuah bukit sakti. Bukit itu bisa melipat-gandakan kekayaan …”

An Li penasaran. Ia terus menguping sampai akhirnya ia tahu di mana letak bukit yang dibicarakan kedua orang itu. Tanpa membuang waktu, An Li segera pergi ke bukit sakti itu. Ia pergi ke hutan yang terletak di tepi kota itu. Belum lama ia masuk ke hutan itu, tiba-tiba muncullah seorang pertapa tua di hadapan An Li.

“Pertapa tua, betulkah ada bukit sakti di dalam hutan ini?” tanya An Li. Pertapa itu langsung menjelaskan. “Bukit itu akan segera kau temukan begitu aku pergi. Dakilah bukit itu. Di sana terdapat empat tangkai mawar biru. Kau hanya boleh memetik satu tangkai. Jangan berbalik ke mawar yang sudah kau lewati! Ingatlah pesanku. Keserakahan akan menghancurkanmu. Menyesal tak ada gunanya,” lanjutnya lalu menghilang.

Pada saat itu juga, muncul sebuah bukit hijau di hadapan An Li. Saudagar itu agak takut. Namun, ia mengikuti petunjuk pertapa tua tadi.

Setelah An Li mendaki, ia menemukan setangkai mawar biru yang tumbuh di tanah. An Li segera mendekat. Saat jemari An Li menyentuh helai mahkota mawar tersebut, muncullah peri kecil. Sambil tersenyum sang Peri berkata lembut,”An Li, bila kau memetik mawar ini, maka hartamu akan berlipat lima kali. Kau akan menjadi orang terkaya di kotamu.”

“Ah, tanpa memetik kau pun, aku sudah menjadi orang terkaya di kotaku, “

An Li pun meninggalkan mawar pertama.

Beberapa saat kemudian, An Li menemukan mawar kedua.

“Mawar kedua ini akan membuatmu menjadi orang terkaya di seluruh negeri, An Li,” Ucap peri penjaga mawar itu.

“Huh, tanpa mawar ini pun sebentar lagi aku pasti bisa melebihi kekayaan Kaisar Chen,” jawab An Li sombong lalu melanjutkan perjalanannya. Lalu sampailah An Li pada mawar ketiga. Muncul peri yang berkata, “Petiklah mawar ketiga ini, An Li. Kau akan menjadi orang terkaya di pulau.”

“Mawar pertama membuatku menjadi orang terkaya di kota. Mawar kedua membuatku menjadi orang terkaya di negeri. Mawar ketiga ini membuatku menjadi orang terkaya di pulau. Hahaha berarti mawar keempat akan membuatku menjadi

orang terkaya di dunia!” ucap An Li penuh ketamakan.

Ia lalu bertekad menemukan mawar keempat. An Li berlari penuh semangat mencari mawar keempat. Setelah mendaki cukup lama, barulah mawar keempat terlihat. An Li segera

mendekat. Dengan penuh ketamakan, tangan An Li mencabut mawar itu hingga ke akar-akarnya. Anehnya, pada saat tangannya menggenggam mawar tersebut. Warna biru mawar

itu langsung berubah menjadi hitam. Bersamaan dengan itu, muncul peri penjaga mawar keempat. Wajahnya sangat mengerikan.

“Ingatlah An Li, ketamakan dan rasa tidak puas hanya akan menghancurkanmu! Dengan memetik mawar ini, terlihat betapa tamaknya engkau! Tahukah kau apa yang akan mawar ini berikan untukmu jika kau memetiknya?” tanya sang peri penuh

kemarahan.

“Aku akan menjadi orang terkaya di dunia kan?” tanya An Li gugup.

“Tidak akan! Mawar keempat yang telanjur kau petik itu akan membuatmu menjadi orang paling miskin di dunia. Hartamu akan habis! Terimalah akibat dari ketamakanmu, An Li!” seru sang Peri. Ucapan tersebut seketika membuat An Li berada di kotanya sendiri.

“Malangnya nasib Tuan An Li. Baru tadi pagi kudengar empat kapal dagangnya tenggelam. Kini rumah dan hartanya terbakar habis. Bahkan kereta kudanya juga dirampok tadi siang!” sayup-sayup An Li mendengar persakapan sekelompok penduduk

kota.

“Hei, lihat! Pengemis itu mirip sekali dengan Tuan An Li!” seru seorang anak kecil kepada temannya, saat ia melihat An Li.

An Li langsung melihat dirinya sendiri. Benar saja. Baju yang kini ia pakai sudah compang-camping. An Li terjatuh lemas. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya saat ini. Andai saja mawar pertama, kedua, dan ketiga membuatnya puas. Andai saja ia tidak mendengarkan percakapan tentang harta yang bisa dilipatgandakan… Andai saja ia tak tamak. Memang benar apa yang dikatakan sang Pertapa Tua. Tak ada gunanya menyesal.

Semua ini terjadi karena ia tak pernah puas dan bersyukur atas apa yang ia miliki.

Sumber: Bobo, 22 Februari 2007

2) Ceritakanlah secara lisan cerita itu dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang menarik sesuai dengan peragaan bercerita yang telah kalian diskusikan!

Rubrik penilaian bercerita untuk disepakati guru dan siswa

Nama Kelompok : ………………………………….

Tanggal : ………………………………….

Judul cerita : ………………………………….

No

Aspek

Deskriptor

Skor

1–5

1

Kesesuaian isi/urutan

Isi cerita sesuai dengan pokok-pokok cerita

2

Suara

Suara jelas dan kuat serta vokal tepat

3

Pelafalan

Pelafalan kata tepat dan jelas

4

Intonasi

Tinggi rendah pengucapan kata sesuai makna

5

Gestur

Gerakan tubuh mendukung isi cerita

6

Mimik

Ekspresi wajah sesuai dengan karakter dan suasana cerita

Jumlah skor maks

30

*Keterangan:

Berilah tanda skor sesuai rentangan nilainya yaitu antara 1—5.

Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut:

Perolehan skor

Nilai akhir = X skor (100) Ideal= ……………………….

Skor maksimum

Yogyakarta, Desember 2008

Satu Tanggapan to “RPP Bercerita”

  1. ryant Says:

    greet jobb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: