ANALISIS KTSP

ANALISIS KTSP SMPN 1 WARUNGKIARA

  1. Pendahuluan

Sejak digulirkan pada tahun 2006 sampai dengan sekarang, Kurikukum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) masih menjadi topik yang tetap aktual. Berbagai pelatihan yang menyangkut KTSP, baik lokal maupun regional, masih terus dilakukan. Selain untuk terus menyosialisasikan KTSP, pemerintah berharap agar KTSP yang disusun setiap sekolah terus diperbaiki menuju kurikulum yang ideal.

Sebagai sekolah yang potensial, SMPN 1 Warungkiara telah menyusun KTSP sejak tahun 2006. Untuk keperluan itu, Kepala sekolah membentuk tim pengembang kurikulum sekolah. Dokumen KTSP yang telah disusun tim ini kemudian dilaporkan kepada Dinas Pendidikan.

Sampai saat ini, dokumen KTSP yang ada di SMPN 1 Warungkiara dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Namun, tidak semua guru, termasuk penulis, memiliki dokumen 1 tersebut. Yang dimiliki guru hanyalah dokumen 2 yaitu lampiran KTSP berupa silabus dan RPP. Pemahaman KTSP bagi guru akhirnya hanya terbatas pada dokumen administrasi guru seperti prota, prosmes, silabus, dan RPP.

Sertifikasi jalur pendidikan yang sedang ditempuh penulis merupakan kesempatan berharga untuk lebih memahami KTSP. Kesempatan ini pula akan digunakan untuk menganalisis KTSP yang selama ini digunakan di sekolah tempat penulis bertugas yaitu di SMPN 1 Warungkiara Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Dokumen yang dianalisis difokuskan pada dokumen 1. Analisis tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menyempurnakan.

Dokumen KTSP ini akan dianalisis menggunakan pisau analisis substansi isi. Substansi isi meliputi komponen-komponen kurikulum, dan kerangka penulisan.

  1. Dokumen 1 KTSP SMPN 1 Warungkiara

Dokumen 1 KTSP SMPN 1 Warungkiara ditandatangani dan disahkan pada bulan Juli 2008. Penyusunannya menggunakan kerangka penulisan sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan

  1. Rasional (berisi definisi kurikulum, sejarah pengembangan kurikulum di SMPN 1 Warungkiara, Indikator keberhasilan penyelenggaraan pendidikan, kekhasan daerah)

  2. Landasan (UU Sisdiknas, PP no 19 tahun 2006, PP no 22 tahun 2006 , PP no 23 tahun 2006, Perda Prov. Jabar no 5 tahun 2005.)

  3. Tujuan Pendidikan Menengah (pasal 26 PP no 19 tahun 2006)

  4. Visi dan Tujuan SMPN 1 Warungkiara (Berisi visi, indikator, misi, tujuan, muatan lokal)

Bab II Kurikulum SMPN 1 Warungkiara

  1. Struktur Muatan Kurikulum

  1. Mata Pelajaran (10 mapel: matrik dilampirkan)

  2. Muatan Lokal (wajib: bahasa sunda, muatan lokal keterampilan menjahit)

  3. Pengembangan diri (kegiatan ekstrakurikuler: PMR, Pasus, Bola Voli, Teater, KIR). Program dilampirkan.

  4. Pengaturan Beban Belajar (sistem paket, tatap muka 40 menit/ jampel, 34 jam/ minggu)

  5. Ketuntasan belajar (kenaikan kelas berdasarkan rapat pleno, bentuk penilaian berupa tes dan non tes, kelulusan berdasarkan PP 19 tahun 2005 pasal 72 ayat (1))

  1. Kalender Pendidikan (mengacu pada kalender pendidikan Dinas Prov Jabar) Kalender dilampirkan.

  2. Silabus (dikembangkan guru mapel) dokumen dilampirkan.

  1. Hasil Analisis

Yang dimaksud analisis substansi adalah analisis KTSP dari segi isinya. Pedoman analisis substansi ini adalah buku saku Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Pertama yang diterbitkan Depdiknas tahun 2007. Yang pertama dilihat adalah kerangka penulisan KTSP. Kerangka penulisan yang dianjurkan dalam pedoman penulisan dibandingkan dengan kerangka penulisan KTSP SMPN 1 Warungkiara. Analisis isi juga melihat isi setiap komponen yang ada dalam KTSP.

  1. kerangka Penulisan

Buku saku KTSP SMP memberikan gambaran kerangka KTSP sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan (yang berisi rasional, landasan, dan tujuan)

Bab II Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan (yang berisi visi, misi, dan tujuan)

Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum

Bab IV Kalender Pendidikan

Bab V Penutup

Lampiran-lampiran (yaitu program tahunan, program semester, silabus, RPP, SK, dan KD mulok, program pengembangan diri, dan perangkat lainnya, misalnya pemetaan KD dan indikator)

KTSP SMPN 1 Warungkiara tahun 2008/2009 disusun berdasarkan kerangka tersebut. Namun, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan pedoman KTSP. Hal-hal tersebut adalah:

  1. kurikulum hanya disusun dalam 2 bab yaitu bab I pendahuluan dan bab II Kurikulum SMPN 1 Warungkiara, sedangkan pedoman dalam buku saku menghendaki 5 bab. Yang paling mencolok adalah tidak adanya bab penutup dalam KTSP SMPN 1 Warungkiara.

  2. KTSP SMPN 1 Warungkiara menyajikan informasi penting seperti matrik struktur kurikulum, program pengembangan diri, dan kalender pendidikan dalam lampiran. Seharusnya hal tersebut terintegrasi dalam paparan Kurikulum. Hal ini bisa dilihat dalam pedoman bahwa lampiran KTSP yang disebut dokumen 2 berisi perangkat pembelajaran.

  3. Terdapat kesalahan yang sangat fatal yaitu penempatan lampiran. Program pengembangan diri bersatu dalam bab visi misi, matrik struktur kurikulum disimpan setelah ketuntasan belajar.

Berdasarkan analisis dari sudut pandang kerangka penulisan, saya menyimpulkan bahwa penulisan KTSP dilakukan dengan terburu-buru, tanpa pembahasan dan editing yang sungguh-sungguh.

  1. Komponen

Komponen-komponen KTSP adalah:

  1. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan (berisi visi, misi, dan tujuan sekolah)

  2. Struktur dan muatan kurikulum

  3. Kalender pendidikan.

  4. Lampiran-lampiran.

KTSP SMPN 1 Warungkiara mengandung semua komponen yang harus terdapat dalam kurikulum. Analisis komponen ini menyangkut isi setiap komponen. Hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Visi SMPN 1 Warungkiara berbunyi “Menghasilkan lulusan yang bertaqwa dan berakhlak mulia dengan unggul dalam iptek, terampil dan mandiri serta berorientasi ke masa depan”.

Komentar: Kalimat di atas tidak menunjukkan suatu visi karena tidak merupakan gambaran sekolah yang dicita-citakan di masa depan. Kata kerja “menghasilkan” lebih menunjukkan misi sekolah. Penggunaan kata dengan membuat kalimat tersebut rancu.

  1. Misi SMPN 1 Warungkiara berbunyi:

  1. Meningkatkan proses pembelajaran yang efektif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan

  2. Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap Tuhan YME,

  3. Mengembangkan potensi siswa untuk berprestasi

  4. Menumbuhkan perilaku yang berakhlak mulia

Komentar: Misi SMPN 1 Warungkiara sudah sesuai dengan visi. Namun, sebaiknya urutannya disesuaikan dengan visi yaitu 3) menumbuhkan penghayatan dan pengamalan ibadah terhadap Tuhan, 4) menumbuhkan perilaku yang berakhlak mulia, 1) mewujudkan proses pembelajaran yang efektif, kemudian 3) mengembangkan potensi siswa untuk berprestasi.

  1. Tujuan SMPN 1 Warungkiara berbunyi:

  1. Peningkatan perolehan rata-rata nilai UN 0,25 per tahun.

  2. 90% siswa dapat melajutkan sekolah yang lebih tinggi.

  3. Menjadi juara kegiatan keagamaan, olahraga, dan seni di tingkat kabupaten (2007-2008)

  4. Menjadi juara kegiatan keagamaan dan olahraga dan seni tingkat provinsi (2009-2010)

  5. 100% siswa mampu melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing

Komentar: Tujuan satuan pendidikan di atas sudah memiliki ciri-ciri sesuai dengan visi, dapat diukur. Yang menjadi masalah adalah apakah tujuan tersebut dapat dijangkau? Saat ini untuk mencapai prestasi tingkat komisariat saja sangat sulit, apalagi untuk tingkat kabupaten dan provinsi.

  1. Struktur dan Muatan Kurikulum

Menurut ketentuan, kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. KTSP SMPN 1 Warungkiara sudah memenuhi ketentuan tersebut. Dokumen 1 halaman 5 menyebutkan ada 10 mata pelajaran muatan nasional, 2 mata pelajaran muatan lokal, dan pengembangan diri. Muatan lokal yang dipilih adalah bahasa Sunda dan keterampilan yang berhubungan dengan keterampilan menjahit. Pemilihan mulok keterampilan menjahit yang disesuaikan dengan industri garmen yang berada di daerah sekitar sangat baik. Namun, dalam lampiran, ternyata mulok keterampilan yang diajarkan bukan menjahit, melainkan PKK. Keterampilan menjahit merupakan bagian dari program lifeskills yang dibiayai oleh blockgrant. Pesertanya adalah siswa yang berpotensi tidak melanjutkan sekolah. Dengan demikian, saya menilai bahwa ada kekeliruan dalam pelaksanaan KTSP di SMPN 1 Warungkiara. Bukan KTSP-nya harus diubah, melainkan silabus dan Kompetensi Dasar yang digunakan guru dalam KBM Mulok keterampilan.

Dalam uraian bab II dijelaskan bahwa kegiatan pengembangan diri di SMPN 1 Warungkiara diwujudkan dalam bentuk ekstrakurikuler. Padahal, berdasarkan pedoman, pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen yaitu pelayanan konseling dan ekstrakurikuler. Kegiatan tidak terprogram dapat dilaksanakan secara rutin, spontan, dan keteladanan. Penjelasan tersebut tidak diuraikan dalam KTSP SMPN 1 Warungkiara.

Berkaitan dengan komponen ketuntasan belajar, ada substansi yang tidak sesuai dengan pedoman. Seharusnya masalah ketuntasan belajar berkaitan dengan KKM, sehingga dipisahkan dengan pembahasan kenaikan kelas dan kelulusan. Dalam dokumen KTSP SMPN 1 Warungkiara ternyata menguraikan masalah kenaikan kelas dan kelulusan dalam sub judul ketuntasan belajar. Konsekuensinya, kita tidak akan menemukan kriteria ketuntasan belajar (KKM) dalam KTSP ini. Masalah lain adalah tidak adanya kriteria kenaikan kelas yang jelas.

  1. Kalender Pendidikan

Kalender Pendidikan SMPN 1 Warungkiara bersumber dari kalender pendidikan yang dikeluarkan dinas pendidikan Provinsi Jawa Barat. Jumlah hari efektif dan hari libur sudah sesuai dengan ketentuan.

  1. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil analisis di atas, penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

  1. Penyusunan KTSP SMPN 1 Warungkiara belum mengikuti kerangka penulisan KTSP yang sesuai dengan buku saku KTSP Sekolah Menengah Pertama.

  2. Tim pengembang kurikulum SMPN 1 Warungkiara tidak melakukan penelaahan dan pengeditan naskah kurikulum. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesalahan penempatan lampiran dalam isi kurikulum.

Untuk memperbaiki naskah KTSP SMPN 1 Warungkiara, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Kerangka penulisan KTSP harus disesuaikan dengan pedoman. Beberapa hal yang terlewat seperti KKM, dan bagian penutup harus dilengkapi.

  2. Matrik struktur kurikulum, program pengembangan diri, dan kalender akademik yang sebelumnya ditempatkan pada lampiran harus diintegrasikan dalam naskah inti.

  3. Revisi KTSP harus dilakukan dengan melibatkan guru bahasa karena dalam naskah KTSP terdapat beberapa kesalahan struktur dan logika bahasa.

  4. Penyusunan KTSP untuk tahun-tahun berikutnya harus lebih baik dan benar. Hal ini akan tercapai jika pihak-pihak yang berkompeten dilibatkan dalam tim pengembang kurikulum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: